Meski Indonesia Pasar Roda 4 Terbesar ASEAN, Tapi Ekspor Kalah Dengan Thailand

Yudakusuma.com – Indonesia sudah dikenal betul oleh pordusen luar negeri sebagai negara yang mempunyai potential buyer terbesar untuk otomotif. Hal ini sudah terlihat dengan berbagai produk otomotif indonesia yang makin masif dan besar.

Produk produk yang ada seperti Avanza, Xenia, Agya, Ayla, Calya, Sigra, Rush, Terios, Innova… Eh kok yang merek itu terus ya… Ya yang lain ada juga toh seperti APV, Panther, Xpander, BR-V, Mobilio, dan lain sebagainya yang tidak bisa admin sebutkan satu per satu….

Realitanya ternyata banyak ya Indonesiaa Domestic Market… ya emang banyak… dan bisa dibilang mobil nasional sebenarnya karena pengerjaannya sedikit banyak dari RnD Indonesia.

Hanya saja problemnya ya logonya saja yang bukan lokal, gitu hehe… Lalu bagaimana soal mobil nasional seperti Esemka dan lain lain, hal ini menarik buat dibahas tapi di artikel kapan kapan aja biar gak OOT hehe….

Singkat kata dengan jumlah mobil sebanyak itu kan bisa dibilang bahwa Indonesia sudah dipercaya oleh produsen luar negeri untuk membuat mobil. Woiyo jelas… bahkan teman admin saja pernah bercerita di Arab sana kalau membeli sparepart Toyota ditawarkan 3 pilihan : Orikintil, Astra atau KW China.

Yang admin sebutkan bukan hanya jenis tapi juga posisi… sparepart Astra yang notabene Indonesia berada pada posisi tengah-tengah… Imajinasikan seperti Aspira atau Indoparts gitu…

Oke kita balik lagi ke data dan fakta, berdasarkan dari artikel Kompas Otomotif disebutkan bahwa Indonesia masih dipercaya sebagai negara dengan penjualan otomotif terbesar se Asia Tenggara.

Namun, untuk produksi ekspor masih kalah dengan Thailand, nah tanda tanya besar tuh… Jadi penjualan di Tanah Air bisa mencapai 1.061.000 unit pada tahun 2016. Di sisi lain Thailand hanya sanggup menjual 768.000 unit pada tahun 2016, jadi selisihnya Indonesia-Thailand ada sekitar 293.000 unit.

Angka yang nggak sedikit dan admin yakin celah akan semakin besar jika ekonomi Indonesia tetap stabil. Namun untuk pasar ekspor untuk global, Indonesia berhasil membuat 1.177.000 unit sedangkan Thailand berkisar di 1.940.000 unit.

 

Ada sekitar 763.000 unit selisihnya dan ini gap yang jauh lebih besar dibandingkan penjualan lokal tadi. Kesimpulannya untuk ekspor kita masih jauh banget dari Thailand. Lalu ini jadi pertanyaan besar? Salah kita dimanaaa?

Masalah ini dijawab oleh presentasi Ketua I Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor) Jongkie D Sugiarto, masalah Indonesia bukan di kualitas tapi di selera. Nah lo selera gimana maksudnya?

Jadi mobil yang kita minati, termasuk mobil indonesia domestic market yang sudah disebutkan di atas rata rata berupa MPV. Yoi MPV… Namun untuk pasar dunia mereka malah lebih ramai di sedan, dimana sedan adalah pasar yang sudah lama ditinggalkan kita.

“Masalahnya di situ, kita di mana, pasarnya di mana. Itu yang mengakibatkan kita jago kandang, yang menyebabkan kita tidak bisa ekspor lagi,” ucap Jongkie.

So salah satu mendongkrak nilai ekspor Indonesia adalah membuat model model Sedan yang bernilai di pasar dunia. Tentu saja barang yang dibuat di Indonesia harus menjadi konsumsi dalam negeri sendiri, pasalnya pajak sedan dinilai ketinggian. Sehingga banyak produsen enggan membuat sedan di Indonesia meskipun rata-rata mereka punya line up sedan.

Kebijakan Pemerintah

Sebenarnya pemerintah sudah membuat suatu usul dan sudah diutarakan oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. Kemenperin sendiri akan merilis suatu aturan baru Low Carbon Emission (LCEV), selain aturan ini untuk mengatur beban pajak pada mobil rendah emisi, nantinya peraturan keringanan pajak untuk sedan juga tertera di dalam situ.

“Kami minta turun pajak PPnBM untuk sedan, dan akan membuat produksi sedan di Indonesia meningkat, dengan itu ekspor akan juga bakal tumbuh. Karena demand ekspor sedan itu tinggi sekali, di mana hampir 1 juta unit,” ujar Airlangga, Senin (27/11/2017).

Dengan adanya peraturan ini diharapkan dari pemerintah bahwa industri otomotif akan menghadirkan line up sedan ekonomis dan murah di Indonesia. Efeknya nanti juga berdampak pada ekspor otomotif yang diharapkan akan semakin meningkat. Namun industri sendiri tidak seiya sekata soal goal yang diinginkan pemerintah.

Diutarakan oleh Bob Azam, Direktur Administrasi PT TMMIN, bahwa industri setuju saja, sepanjang pemerintah membuat kebijakan yang menunjang pasar yang lebih besar dan sehat. Namun Bob mengatakan apabila tujuannya meningkatkan pasar ekspor masih banyak hal yang harus dilalui sebelum menuju kesana.

“Semakin dalam, rantai pasokannya kuat, maka daya saingnya kuat, ekspornya kuat. Jadi itu saling berkait. Enggak sifatnya otomatis, tapi terus terang, sepanjang kebijakan pemerintah itu bersifat menyehatkan atau membesarkan pasar itu baik untuk kami,” kata Bob.

So pada akhirnya, memang sih pasar di dalam negeri kita terlihat nikmat, gurih gurih nyoy buat para produsen otomotif. Namun ya perlu diperhatikan lagi bahwa selera mobil Indonesia ternyata anti mainstream bila dibandingkan selera orang luar negeri.

Peraturan pemerintah yang baru hanyalah salah satu dari faktor untuk mendongkrak kemajuan ekspor indonesia. Namun yang lebih terpenting lagi adalah line up mobil asal luar negeri akan semakin banyak dan semakin value untuk dalam negeri.

Padahal di sisi lain, anak bangsa kini sudah berhasil membuat mobil hasil pemikiran mereka, sayangnya beberapa dari mereka kini sedang bekerja di instansi merek luar negeri. Dalam hal ini pemerintah dituntut untuk menebalkan kata “Kendaraan Nasional”, mendorong mereka yang masih menggapai impian menghasilkan merek lokal.

Syukurnya untuk motor, merek seperti Gesits dan Viar, masih berjalan dengan baik meski perlahan. Setidaknya dua perusahaan otomotif ini akan menumbuhkan spirit bagi anak bangsa lain untuk membuat merek nasional roda 4.

Kalau tidak ya tidak beda jauh dengan pemerintah sebelumnya yang membuat regulasi LCGC yang hasilnya bisa sedulur lihat sekarang di jalan. BTW kalau bahasannya berat mungkin disudahi sampai disini dulu hehe… Next time kita lanjutkan lagi….

Nyetir sehat pasti pintar…………………. Salam gendjooooooosss………………….!!!

Baca juga artikel yang lain lur :

This entry was posted in Serba-Serbi Otomotif and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Meski Indonesia Pasar Roda 4 Terbesar ASEAN, Tapi Ekspor Kalah Dengan Thailand

  1. st3v4nt says:

    Logis sih ekspor dari Indonesia karena negara maritim butuh biaya pengapalan dan waktu tempuh lebih panjang. Sementara dari Thai karena ada di daratan asia lebih mudah dan mungkin lebih murah tinggal di bawa lewat darat. Makanya kalau mau ekspor moncer ya mau gak mau infrastruktur maritim Indonesia kudu dibenahin.

Leave a Reply